WEALTH PROTECTION

img-1492864905.jpg

Pada tahap ini, kebutuhan akan kekayaan atau sumber dana untuk membiayai hidupkita masih berada pada level terbawah. Biasanya ini terjadi pada orang-orangberumur 17 - 25 tahun, dengan ciri-ciri lajang dan belum menikah. Tahapini juga memiliki ciri-ciri dimana orang yang dimaksud belum memilikipekerjaan, atau baru memulai awal karirnya, atau juga baru memulai bisnisnya.

Karena mereka belum atau baru saja akan memulai 'menghasilkan' kekayaan, merekaterekspos dengan risiko kesehatan (entah karena terforsir kegiatan kuliah ataupekerjaan barunya) maupun kecelakaan karena perilaku pergerakan manusia-manusiamuda yang cenderung dinamis dan di lapangan terus.

Maka, sangat penting bagi mereka untuk sejak awal mengambil langkah untukmelindungi potensi kekayaan yang akan mereka dapat saat ini sampai denganseterusnya. Pengambilan asuransi jiwa dan kesehatan yang berhubungan denganjenis pekerjaan saat ini dan ke depannya sangat disarankan untuk segeradimiliki. Dan juga, jika ada rencana menikah ke depannya, maka perlu adanyaproteksi terhadap kemungkinan tidak bisa membayar hutang KPR dan atau hutangkendaraan bermotor yang vital.

Mengapa? Karena pada usia yang sangat muda, dengan asumsi bahwa usia pensiunnormal manusia Indonesia adalah 55 tahun, premi asuransi yang dibutuhkan masihsangat murah untuk dibayar dan dicicil oleh para manusia muda tersebut.Sementara manfaat perlindungan kesehatan dan jiwa yang akan mereka dapatkanbisa bertahan sampai usia pensiun mereka.

Belum lagi ada faktor inflasi, dimana (misalnya) Rp 400 ribu per bulan yangkita bayarkan sebagai premi tahun ini nilainya akan semakin tak berarti sekitar5-10 tahun kemudian. Maka, standar yang dipakai pada tahap ini adalah memilikipolis asuransi jiwa dan kesehatan kerja sedini mungkin (entah perusahaan tempatanda bekerja sudah menyediakannya atau pun tidak menyediakannya).


PROTEKSI PENDAPATAN KELUARGA

Perencanaankeuangan diperlukan dalam setiap tahap kehidupan manusia. Dari mulai anak-anakhingga usia tua. Namun, siapa yang dapat menyangkal bahwa di setiap tahapantersebut selalu ada resiko kehidupan yang mengintai. Meninggal dunia,kecelakaan, sakit kritis, cacat tetap total adalah resiko yang senantiasamengikuti setiap tahap kehidupan manusia tanpa henti. Apakah kita bisa terbebasdari resiko-resiko kehidupan tersebut? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.Bahkan jika kita bersembunyi dibalik benteng yang kokoh sekalipun,resiko-resiko tersebut tetap dapat terjadi kapanpun, dimanapun dan dengan caraapapun.

img-1492865983.jpg

Jadimemang mustahil menghindari resiko. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Meminimalisirresiko tentu saja, dan cara yang paling mutakhir dalam manajemen resiko adalahmentransfer resiko kepada perusahaan asuransi. Misalnya begini, seorang kepalakeluarga, yang memiliki penghasilan setiap bulannya, bertanggung jawab ataskehidupan dirinya dan keluarganya saat ini dan nanti, apapun yang terjadi.Sederhananya, meskipun ia sudah tidak mampu untuk memberikan nafkah bagikeluarganya karena meninggal dunia ataupun cacat tetap, maka ia tetapbertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya, sampai dengan anaknyayang terkecil berusia 23 - 25 tahun (mandiri).

Asuransijiwa dirancang untuk memberikan proteksi pendapatan terhadap adanya resikokematian dini dan cacat total tetap, yang mengakibatkan kerugian keuangan(financial loss).

Asuransijiwa adalah suatu pelimpahan resiko (risktransfering) atas kerugian keuangan oleh tertanggung kepada penanggung.Resiko yang dilimpahkan kepada penanggung bukanlah resiko atas hilangnya jiwaseseorang, melainkan kerugian keuangan akibat hilangnya jiwa.

Nilaiekonomi hidup manusia dapat diukur dan inilah yang menjadi dasar perhitunganUang Pertanggungan (UP) asuransijiwa. Nilai ekonomi hidup kepala keluarga meninggal dunia/ cacat, makakeluarganya akan langsung menderita kerugian.

Nilaiekonomi hidup seseorang tercermin dari besarnya proteksi pendapatan atau lebihtepatnya UP asuransi jiwa yangdimilikinya. Jumlah tersebut disesuaikan dengan nilai ekonomi hidupnya,maksudnya adalah, jangan sampai seseorang memiliki UP yang terlalu besar (Over Insured) ataupun terlalu kecil(UnderInsured).

Proteksipenghasilan keluarga/ Asuransi adalah merupakan dasar dari perencanaan keuangan

Sehingga memiliki Asuransi akan mendukung tercapainya tujuan-tujuan hidup, yakni : Proteksi PendapatanKeluarga, Dana Pendidikan, Dana Pensiun, dan Warisan.

Namun,semua tujuan tersebut tidak akan tercapai jika belum memiliki proteksipendapatan yang cukup. Jika diibaratkan sebagai rumah, proteksi pendapatanadalah pondasinya. Jika pondasinya kurang kuat, maka robohlah rumah tersebut.

Samaseperti keluarga, jika belum memiliki proteksi pendapatan yang cukup, maka bisaditebak, ketika resiko menimpa sang pencari nafkah utama, maka ekonomi keluargatersebut akan goyah. Kemudian akibatnya, investasi yang ditargetkan untuktujuan dana pendidikan, dana pensiun, dan warisan akan dicairkan guna memenuhikebutuhan pokok keluarga sehari-hari.

Permasalahannya,apakah agen asuransi sudah menghitung dengan baik berapa kebutuhan asuransiklien mereka? Jika agen asuransi tidak melakukan perhitungan dengan benar, uangpertanggungan yang dibuatkan di ilustrasi belum sesuai dengan kebutuhankliennya. Jika UP tidak mencukupi, maka kelarga tetap harus menanggung biayahidup yang sama demi menjaga standart hidup keluarga tetap sama.

Dalamtraining financial, para tenaga pemasaran/ agen asuransi dibekali pengetahuanbagaimana cara menghitung UP yang sesuai dengan kebutuhan nasabah. Sehingga jikaterjadi resiko, keluarga nasabah bisa tetap hidup dengan layak hingga anakterkecil mencapai usia mandiri.

Seperti yang sudah dijelaskan di depan, bahwafondasi dari perencanaan keuangan adalah proteksi income atau UP. Berbeda dari2 perencanaan keuangan untuk mencapai tujuan hidup, yaitu Dana Pendidikan danDana Pensiun, yang keduanya biasanya dapat dikategorikan sebagai tujuan hidupjangka menengah dan jangka panjang, maka proteksi income adalah tujuan denganorientasi jangka sangat pendek. Sederhananya, jika kita memiliki asuransi hariini, maka UP harus tersedia esok hari, karena kita tidak mengetahui kapankepastian hidup datang.

Jadi, Proteksi Keluargaadalah :Menghitung nilai sekarang dari seluruhpengeluaran keluarga sampai usia anak terkecil mandiri.Untuk menghitung UP yang sesuai dengan kebutuhanklien, maka tenaga pemasaran harus melakukan Financial Check Up atau memeriksakondisi keuangan klien, layaknya dokter yang memeriksa kondisi pasiennya untukkemudian memberikan rekomendasi yang sesuai dengan penyakitnya.

Berikut adalah tahapan dari Financial Check Up :

1.Identifikasikebutuhan finansial calon nasabah

2.Melakukanperhitungan berdasarkan data yang akurat dan menghasilkan angka yang riil

3.Merekomendasikanrancangan solusi yang sesuai dengan tujuan finansial calon nasabah

KESIMPULAN

Padadasarnya, yang ingin diproteksi adalah pengeluaran keluarga. Karena pointpentingnya adalah menjaga standarhidup keluarga tetap sama meskipun pencarinafkah utama terkena resiko atau kepastian hidup.

Persentasepengeluaran yang diproteksi, idealnya adalah sebesar 80% - 90%. Mengapa bukan100%? Hal inidikarenakan hilangnya pos pengeluaran satu orang anggotakeluarga, yaitu sang pencari nafkah.

Uangpertanggungan, yang akan diberikan secara lumpsumnantinya diinvestasikan kedalam instrumeninvestasi yang aman dan likuid,seperti deposito atau tabungan. Mengapa? Karena uang pertanggungan tersebutharus ditarik seacara rutin untuk membiayai biaya hidup sehari-hari keluarga.

img-1492866668.jpg